Jumat, Januari 16, 2015

Exhaust Wrapping

Muffler alias knalpot merupakan salah satu organ tubuh sepeda motor yang penting namun sering diabaikan.
Setelah melihat berbagai referensi, akhirnya saya beli muffler wrap. Kemudahan jaman sekarang ini sungguh membuat makhluk bernama manusia harusnya malu bila terlalu sering mengeluh. Internet. Dengan adanya internet dan kekuatan modem yang koneksinya alakadar, saya mencari info ‘dari berbagai sumber’ [padahal dari internet doang] …. tentang how to install exhaust wrap, kalau di internet lebih mudah cari dengan kata kunci exhaust wrap. Setelah download 3 file dari youtube dan selembar file text edit dari sebuah forum,…saya memberanikan diri memasang pita itu.

Fungsi dari exhaust wrap selain ‘biar beda’,… juga melindungi leher knalpot dari kotoran, dan bahkan karat. Awalnya sih saya risih dengan pemberitaan razia knalpot yang dianggap melanggar, padahal belum ada hukum dan barometer batas dB nya. Ya ada, barometernya rasa…dan rasa itu beda-beda. Tapi ya itulah penguasa kita. Saya ngga akan membahas itu disini. Fungsi selain ‘gaya’ dan perlindungan, ternyata konon bisa menambah efisiensi kerja mesin hingga penggunaan bahan bakar. Saya membeli pita exhaust wrap ini dari seorang penjual online, saya cari yang lokasinya di Jogja karena saya sedang di lokasi kota itu…biar bisa COD an. Walau nyatanya saya yang mendatangi tokonya, biar puas.

Saya mengganti knalpot lama saya yang suaranya cukup kencang bila gas diputar dalam, entah berapa RPM karena saya ga ada alat RPM itu,… namun halus ngebass jika gas tidak diputar dalam. Merknya DOMINATION,… dengan desain dan font yang cukup ‘metal’ maka saya dulu beli knalpot itu, karena knalpot aslinya rusak sudah. Dan mencari knalpot ori Bajaj Pulsar tidaklah mudah. Kenapa pilih Bajaj Pulsar sih Oy? … ntar ceritanya di bab lain ya? … 

Sesuai petunjuk dari ‘berbagai sumber’ tadi, saya beli sarung tangan orange dari karet berukuran L,… seharga ±Rp16,000 disebuah toko swalayan dekat rumah, setelah pulang dan buka tas kresek exhaust wrap, baru lihat ternyata oleh penjualnya sudah disediakan sarung tangan plastik, ealah… makanya baca manual book baru pegang alat. Kebiasaan. Selain itu penjual ini juga menyediakan print out how to masangnya,… mudah dimengerti,… dan lalu atas nama kenyamanan saya pilih pakai sarung tangan orange yang saya beli, karena penjualnya sendiri pakai sarung tangan orange jenis itu saat memotong pita yang saya beli. O iya, saya beli 8 meter pita. 




Langkah pertama adalah mencopot knalpot baru saya,… knalpot DOMINATION sudah saya ganti dengan NOB1 yang DUAL SOUND SYSTEM




Dan dengan leher knalpot baru ini berharap lolos dari tilangan knalpot walau bentuknya terlihat masih sport. Kalau di video dari youtube sih idealnya dikerjakan dua orang, ada juga yang satu orang tapi pakai alat penjepit untuk memegang si knalpot,… saya satu orang dan tanpa alat penjepit. Tuhan memberi saya sifat keras kepala, maka itu saya kerjakan sendiri dengan alat alakadarnya,… mirip koneksi internet dari modem saya tadi. Setelah copot knalpot, leher knalpot saya brasso dulu agar bakal karat hilang bersih dan kinclong,… saya diamkan satu malam, tidak saya ajak bicara… 








esoknya saya semprot dengan cat PYLOX yang konon tahan panas,… sampai pada tahap ini tidak menemui kesulitan sama sekali. Setelah menghabiskan sekaleng PYLOX seharga Rp23,000 untuk satu knalpot, saya diamkan lagi, bahkan saya jemur dibawah terik matahari. Ya biar kering lah… 













Ga lama kemudian  coba saya aplikasikan pita warna putih yang sudah saya rendam tadi malam. Konon pita itu dari fiber yang tahan panas, dan bulu-bulunya bisa mengakibatkan gatal saat menyentuh kulit manusia, itulah fungsi sarung tangan…biar ga gatal. 

Instruksi dari penjual dan referensi yang sudah menancap di ingatan saya saat itu saya keluarkan, menarik sekuat mungkin, sisakan sepertiga lilitan sebelumnya. Baiklah. Ternyata memang idealnya dua orang, atau satu orang dengan alat penjepit, si knalpot tidak ada yang menahan saat pita ditarik kuat. Tapi ini tantangan! … Di sebuah garasi yang tak terlalu luas, tanpa AC dan kipas angin. Sendirian berjibaku dengan pita putih dan knalpot yang lehernya sudah berwarna hitam. Backsound dari iPod Classic 80GB menyenandungkan lagu dari JUPRI [Judas Priest] … yang vokalisnya erhmm,.. yah begitulah… tapi sa suka musiknya. 

Lilitan sudah hampir habis, tapi leher knalpot masih tersisa, ini kopet berepet….gemes rasanya…energi sudah hampir habis tapi terpaksa mengulangi lagi. Saya juga heran, kok knalpot segini saja bisa habis 8 meter pita? … 





Yaudah, ngulang lagi, pita digulung lagi. Tangan mulai keringetan didalam sarung tangan karet, kopi sudah tinggal setengah cangkir. Sruput sejenak lalu lanjut lagi,… jujur saja saat keberhasilan itu adalah lilitan ketiga [total] …. jadi pada lilitan kedua saya gagal lagi, itu knalpot masih ada bagian yang belum terlilit…nah pada action lilitan ketigalah saya berhasil… Saking gemesnya saya copot sarung tangan karet orange itu,…saya melupakan efek samping dari pita fiber tadi. Gatal mulai terasa. Tangan dan paha, saya pakai celana pendek….dan ini sebuah kesalahan ternyata.










Knalpot sudah terlilit rapi. Tapi belum terpasang pada motor.

Baru satu bulan saya terbebas dari gatalnya kutu babi yang saya bawa dari Papua, dan kini sudah harus merasakan nikmatnya gatal karena fiber. Sudahlah tahan dulu,… playlist berubah ke SEPULTOKUR [sepultura] …dengerin best of saja biar denger yg apik-apik. Lalu memasang knalpot yang sudah terlilit pita putih,… warna putih memang warna yang rentan kotor. Sebelum memutuskan beli warna ini, kemarin di bengkel yang lokasinya di barat Amplaz, ditawarin warna ungu cerah. Ya, ungu cerah,… jelas saya tolak. Biar saya pakai warna putih ini, biar saja kotor, biar ada record perjalanan yang tetap menempel pada leher knalpot motor saya… 





Setelah knalpot terpasang, hmmm…secara penampilan memang berubah sih, lebih bagaimana gitu, ada sentuhan tangannya. Saya suka! … mesin dinyalakan dan keluarlah asap dari knalpot, menurut referensi itu normal. Yasudah,…





Besoknya, saya coba berkeliling dengan motor yang knalpotnya berbalut exhaust wrap ini,… ujung muffler masih menggunakan dB booster, jadi suaranya meledak jika putaran gas pada posisi dalam. Power memang berasa berubah walau saya tak bisa memastikan secara matematis berapa perubahannya. Saya masih mempertahankan dB booster pada ujung knalpot tadi, masyarakat di kampung ini tak terganggu dengan suara knalpot saya. Ya jelas, karena nyetir saya pelan-pelan jika masuk kampung. 

Bosan, saya coba ganti ujung muffler dengan dB killer, sebuah aplikasi hardware dari knalpot baru yang cukup mengasyikkan. Setelah saya pasang, suara knalpot berubah total. Lebih ngebass dan merdu laiknya motor mayoritas yang mainstream, tak apalah, saya ingin rasakan powernya. Saya coba gunakan untuk berkeliling, ke kantor dan pulang. Jarak yang ditempuh sekitar 28km … dengan jarak sejauh itu saya bisa merasakan perubahan power pada motor saya, lagi-lagi saya tak bisa menunjukkan data matematis perubahannya. Namun saya lebih nyaman setelah memasang exhaust wrap ini.



Sudah seminggu lebih exhaust wrap terpasang,…kotoran sudah menempel di pita yang melilit leher knalpot… rasa gatal sudah hilang… Namun masih ada lagi yang ingin dirubah dari tunggangan kuda besi saya.

Rabu, November 26, 2014

Koordinat GPS Wisata di Jogjakarta ~ Domarku Web Design

Koordinat GPS Wisata di Jogjakarta ~ Domarku Web Design

Proses Pra Editing yang memerlukan ber ton-ton kesabaran.

Suhu dipagi ini mengingatkanku pada suhu siang hari di Hepuba, Wamena. Sejuknya tak mudah hilang, mungkin tertahan oleh megahnya lembah Baliem yang melindungi wilayah subur itu. Sejak kemarin malam selepas maghrib saya melanjutkan convert file yang cukup melelahkan untuk tulang punggung, sebuah proses yang memang harus dijalani jika ingin mengedit file .MTS yang dihasilkan kamera SONY dengan Final Cut Pro 7.0.3 nantinya. Hari kemarin saya tak datang ke Kampung Halaman, saya bekerja dirumah dengan alasan efektifitas kerja, toh jika kesana setelah menempuh ±14km itu yang saya lakukan sama dengan yang saya lakukan dirumah. 

Ada pertanyaan menarik dari seorang anak yang sedang menikmati liburnya kemarin siang dalam rangka hari guru, dia tanya apakah dulu eyang Papa menyuruh saya untuk memanjangkan rambut? ... hahaha, saya jawab engga, saya jawab bahwa saya membiarkan rambut sedemikian panjang karena ini pertanda kesabaran, lalu saya kembali tanya ke anak SD yang masih kelas dua itu. Tahu gambar Yesus atau Nabi Isa? ... itu kenapa panjang rambutnya? ... dia menggeleng tanda tak mengerti, nah silakan tanya ke ustadzah yang lagi libur sekarang ya? ... Si bocah hanya tersenyum, mikir. 

Meja ngaji pendek bocah tadi memang sedang saya bawa ke kamar tidur dan saya taruh diatas kasur dengan laptop keluaran tahun 2009 dan external hardisk 2TB diatasnya. Suhu laptop cukup panas karena ruangan saya tanpa AC, saya selonjor mirip pasien dirumah sakit yang sedang makan ditempat tidur. 

Proses sebelum editing film, yaitu encode atau convert adalah proses merubah file hasil shooting. File yang dihasilkan kamera SONY HXR 30P yang saya gunakan selama satu bulang di Hepuba adalah file .MTS, dan jika menggunakan aplikasi editing Final Cut Pro 7.0.3 file raw berupa .MTS itu tak bisa langsung diedit, harus dirubah dulu ke file .MOV ... dalam hal ini volume file akan membesar, sekitar 4-6 kali lipatnya... jadi jika sebuah file sejumlah 300MB .MTS setelah diconvert akan membesar jadi 1,8GB .MOV nantinya, sekitar... FCP (Final Cut Pro) memang memiliki syarat tertentu sebelum memulai edit. Beberapa teman saya yang berprofesi sebagai editor tidak sabar dengan proses yang cukup melelahkan ini, konon aplikasi Adobe Premiere bisa mengedit file .MTS ... namun bagi saya FCP lebih nyaman, walau saya harus membayar kenyamanan itu dengan berhari hari encoding file.

File hasil shooting yang saya bawa pulang ke Jogja memang tak sedikit, sudah habit bagi saya untuk belanja gambar banyak ketika di lokasi shooting dokumenter. Ini bukan sesuatu yang scripted ketika berhadapan dengan berbagai moment di lokasi. Dan saya tak suka melewatkan moment tanpa merekamnya. Karena bahkan sebuah shot kedipan mata pun bisa berarti ketika sudah di meja editing nanti, ada teman saya seorang cameraman yang paham editing... paham, bukan menguasai namun memahami kebutuhan editing, saya suka sekali menerima gambar-gambarnya, layaknya seorang koki yang menerima bahan masakan yang bagus nan segar. 

Kembali ke FCP, saya mengenal FCP sejak versi 5 dengan OS Tiger (kalau tak salah) hingga FCP X yang kurang nyaman bagi saya. FCP 7.0.3 masih yang paling nyaman. Untuk dokumenter diperlukan ketahanan dan kestabilan editing suite memang, sebaiknya seorang editor (seorang editor beda dengan editing operator) ... paham dengan specs komputer yang ia gunakan dan paham juga dengan perjuangan sebelum mengedit. Dan itu yang sedang saya lakukan sekarang,... saya lupa sudah habis berapa ratus GIGA, nanti saya update. Kenapa alat cukup penting dalam hal ini? karena itu sarana, seperti infrastruktur pada sebuah daerah, aktifitas perekonimian pada sebuah daerah akan lancar jika infrastrukturnya baik. Kalau buruk bisa juga sih jalan, tapi seperti apa jalannya? ... 

Laptop bikinan Apple.inc keluaran tahun 2009 yang saya gunakan ini masih mampu menggarap kebutuhan encode / convert file ratusan giga dan ratusan file. Beruntunglah saya, jadi bisa kerja dirumah...sambil menikmati liburan bersama si bocah. Waktu yang mahal bagi saya untuk bisa bersama mereka. 



Itu tampilan beberapa aplikasi converter yang saya gunakan bila perlu. Sejauh ini saya dapat 761.19 GB data video hasil convert, maka pantas sudah jika butuh waktu berhari-hari untuk converting, dan butuh berton-ton kesabaran untuk melakukannya.

Harap hasil dari film ini nanti bisa bagus dan memberi pelajaran baru bagi pembuatnya dan penontonnya. Karena film ini memuat issue remaja perempuan dan perjuangannya, dengan lokasi yang sangat minim signal internet, pun juga minim polusi. 

Struktur cerita sudah terbayang dikepala, proses lain yang tak kalah melelahkan adalah transkrip. Lain waktu saya akan cerita :) ...


Salam damai, Rahayu...


Kamis, Oktober 16, 2014

SILENT MIND ON NOISY MOTORCYCLE RIDING

Judul diatas memang berbahasa inggris, tapi saya akan bercerita dalam bahasa Indonesia saja.

Berkaitan dengan postingan saya beberapa waktu yang lalu tentang perjalanan saya dari Jakarta ke Jogjakarta dengan sepeda motor sendirian,... akan saya rangkum dalam post ini.

Rute yang saya pilih adalah ...

Jakarta
Cisarua
Padalarang
Ciamis 
Cilacap 
Adipala -7.655981, 109.124776
... -7.716056, 109.388215
Tambak Mulya (?) -7.738818, 109.493958
Srandakan -7.931686, 110266368
... -7.831731, 110.399362

Dan? ... ngga disangka, rute itu sangat mengasikkan buat saya,... sendiri menerpa angin,....
Perjalanan dimulai selepas subuh... setelah menempelkan jidat rata dengan kaki pada lantai, aku pamit ke istri,... bidadari yang doanya tak pernah lepas buatku.
Jalanan melintasi Jakarta selatan lumayan padat walau masih pagi,... ramainya anak sekolah yang berangkat dan orang-orang kantoran yang menuaikan kewajibannya. Tidak terlalu menarik perjalanan ini kecuali jalanan yang tidak lazim untuk jalur antar kota antar provinsi.

Sebelum sampai Puncak aku sempat kesasar, gara-gara GPS lagi ngaco... masuk ke gang kecil dan buntu. Setelah bertanya ke penduduk setempat (GPS = Gunakan Penduduk Setempat) ... logat Sundanya terdengar clear saat memberikan arahan.

Perjalanan terasa nikmat, kelok kiri kelok kanan,....naik dan turun...seperti kehidupan.


Perjalanan melewati Puncak ngga banyak memberikan kesempatan untuk berfoto, kenapa? Karena nikmatnya. Hingga pada saat melewati daerah yang menyadarkan aku untuk mendokumentasikan perjalanan ini,... kebiasaan yang sering terlupakan.


Saat di Bandung GPS ku ngaco lagi,...dia sok mencarikan jalan tembus yang hasilnya seperti ini...nyasar lagi...







Akhirnyaaa,...






Singkat cerita setelah menembus Bandung tibalah aku di daerah Cilacap,... daerah yang dulu hanya kulewati sekejap saja. Ternyata daerah ini sungguh kaya dengan pemandangan yang aduhai,... dari GPS yang sudah ngga ngaco lagi aku bisa menikmati pemandangan seperti ini...



 Aku berhenti sejenak di pinggiran sungai yang awalnya kukira itu adalah danau atau apa gitu,... ransum air minum kuambil dan kutengguk sambil ambil nafas panjang, segarnya udara disini...


Seorang bapak sedang memancing dan kusapa,... aku pura-pura tanya jalan arah ke Bantul ...


Bapak ini menceritakan rute utama dan rute alternatif dengan semangat 45... :D ... aku sangat suka bila bertemu dengan masyarakat lokal dan sempat berbincang seperti ini. Bapak (yang aku lupa namanya) ... menceritakan sebuah jalur yang berkelok dan sepi, namun jalan sempit...dan menyusuri pantai... aku berlagak belum tahu ttg rute itu, padahal sudah kucatat di GPS ku... Tapi terimakasih lho pak... :D


Itu jalan yang kulewati untuk break sejenak di pinggiran sungai Serayu,... ternyata itu jalan belum jadi... ealaaahh...


Sungai Serayu, bukan danau ya? ...



Perjalanan kulanjutkan dan mulai kupasang lagu di telingaku,... dengan tujuan mendapatkan tempo yang tepat sambil riding menikmati angin.




Laju motorku tak terlalu kencang, bahkan aku sering memilih tunggu untuk kendaraan lain, terlalu sayang jika udara dan pemandangan ini kulewati terlalu cepat...

Tidak memikirkan hal lain selain menikmati apa yang kulewati,... terapi ini lah yang membuatku semacam ketagihan untuk melakukan aktifitas yang menurut orang lain seusiaku hanya berucap... "ngapain?" ... ini beda kawan,... ini beda.





Tak terasa pegal atau lelah dirasakan tubuh ini,...entahlah...selain di Serayu tadi aku hanya istirahat untuk sujud sejenak, tanpa tidur tanpa rebahan.
Hingga pada koordinat aku berada di sebuah jalan yang membawa ingatanku ke sebuah tempat dimana aku pernah merasa nyaman...



diantara benar dan salah ada sebuah taman, dan aku akan menemuimu disana.



pantesan ada banyak pohon cemara,... nama daerahnya aja cemara sewu...


Dari titik itu aku lanjut,... jalanan tak terlalu lebar namun kualitas aspal bagus dan lengang,... sinar kuning matahari sore menemani dibelakangku,... aku menuju timur.


Aku berhenti lagi,... view seperti ini tak kudapatkan ketika aku pergi menggunakan travel atau pesawat terbang,...




Ternyata Kebumen memiliki spot seindah ini,...
Banyak tikungan centil seperti ini,...



Liihatlah,... foto-foto ini belum kuedit sama sekali...





Setelah rambu itu aku melewati jalanan yang lurus, ... Daendels... yang dulu telah merancang sebuah jalan untuk lancarnya transportasi di daerah itu... namun keadaan jalan tak sepenuhnya baik, tidak rata dan banyak tambalan. Sementara keadaan langit mulai berubah dan isi tangki bahan bakar motorku yang kuisi tadi malam mulai menipis...


Di titik inilah aku harus merubah kran bahan bakar ke posisi res ... dan aku sudah terbayang bahwa volume minyak yang ada di tangki sebanyak ini...


Tak perlu panik, aku yakin bahwa kendaraan ini masih mampu menempuh puluhan kilometer lagi...


Dan tak lama kemudian aku menemukan pom bensin untuk mengisi ulang tangki berkapasitas maksimum 19 liter itu.

Keadaan jalanan tak terlalu banyak penerangan jalan,... lampu motor bekerja cukup baik walau kabel seperti kendor dan perlu pembenahan... aku terus berjalan,... suara knalpot motorku tetap berisik... Hingga sekitar pukul delapan malam aku tiba di rumah. Perasaan lega karena selamat sampai tujuan muncul,... tubuh yang berdebu dan kotor tak menjadi masalah, dan sambutan hangat dari makhluk-makhluk dibawah sepuluh tahun memompa kembali semangat hidupku.

Pesanan secangkir kopi terhidang dan cengkerama tercipta, terimakasih Tuhan...atas indahnya alam yang Kau berikan pada kami,...

Popular Posts

Download

About

Sebagai kumpulan rekaman dari isi kepala saya yang ingin saya bagikan pada kawan, sahabat, calon kawan, calon sahabat,... bahkan lawan yang sedang mengintili bila mungkin ada. Silakan,...

Halaman

Banner Ad